Mengemas Lamunan

Tidak tahu harus berkata apa setiap kali turun hujan. Di satu sisi hujan membawa berkah bagi para petani yang sedang menunggu air. Tapi acap kali hujan malah mendapat makian dari para pengendara. Bagi mereka hujan cukup membawa sial, apalagi kalau tidak membawa jas hujan. Basah dan dingin adalah hal yang menjengkelkan.

Berteduh di emperan warung menjadi opsi terakhir. Mau bagaimana lagi daripada basah dan kedinginan kemudian meriang. Walaupun menunggu hujan reda merupakan kegiatan yang menjenuhkan. Tapi sepertinya harus berdamai dan harus dinikmati.

Warung sudah tutup ternyata. Tinggal menyisakan dua kursi agak lusuh. Tapi tak mengapa sekedar duduk untuk melepas capek masih bisa. Rupanya hanya aku sendiri yang berteduh di emper warung itu. Untuk mengusir kebosanan sambil melihat lalu lalang motor dengan pengendara yang bermantel hujan. Ah, sepertinya mereka juga sama kayak aku, mengutuki hujan.

Tak lama datang seorang untuk berteduh. Seperti biasa orang yang berteduh pasti datang dengan tergopoh-gopoh. Mematikan mesin motor kemudian mengibaskan sebagian jaket yang basah. Sambil melepas helm tentunya. Seorang wanita rupanya, mungkin seumuran anak kuliahan. Semester 4. Ah, jangan sok tahu. Lagi pula ngapain menebak usia dan semester orang. Ya kalau dia anak kuliahan, bagaimana jika dia sudah bekerja. Ya, sepertinya memikirkan hal itu tak begitu penting.

Setelah melepas jaket dan helm, ia melihat ke arahku. Sambil mengangguk dan tersenyum untuk beramah wajah. Berdiri di dekat motor. Entah apa yang dipikirkan, sepertinya ia menatap kosong lalu lalang jalan. Mau aku tawarkan kursi sebelah yang kosong tapi aku tak ingin mengganggunya. Biarkan dia khusyuk dengan lamunannya. Melamun ketika hujan memang kenikmatan sendiri. Apalagi jika tak ada orang yang mengganggu.

Sekira lima menit melamun sepertinya dia udah kembali ke alam nyata. Sambil menengok ke arah kanan yang di mana aku duduk, sambil tersenyum untuk ke dua kalinya. Aku juga membalas senyumnya sambil mengangguk pelan. Sial. Senyumnya sangat manis.

Baca juga nih rekomendasi Wisata Hits Dieng 2022

Kemudian aku tawarkan kursi yang kosong satunya. Sepertinya dia minat untuk duduk, tapi juga sungkan. Atau bahkan takut. Bagaimana tidak, berteduh di emperan warung yang sudah tutup. Apalagi cuma berdua. Walaupun lalu lalang jalan lumayan ramai tapi tak cukup memberi rasa nyaman bagi dia.

Aku tawarkan sekali lagi. “Ada kursi kosong. Bisa dipakai duduk daripada capek berdiri terus”. Tawarku sambil berusaha ramah. “Iya terima kasih”. Jawabnya. Sambil mengangguk dan tetap tersenyum. Dari gerak-geriknya sepertinya dia minat untuk duduk di kursi tapi sungkan.

Tak tahu kenapa biasanya aku adalah manusia super cuek kali ini agak responsif. Aku pindahkan kursi itu. Yang semula berjejer pas di sebelah kursi yang aku duduki aku pindahkan ke dekat tempat ia berdiri.

“Silakan duduk! Tidak dipakai kok”.

“Iya terima kasih ya.”

Kemudian ia duduk. Sambil mengatasi kegugupan ia berusaha setenang mungkin. Aku kemudian kembali duduk di kursi. Jaraknya tak begitu jauh. Mungkin hanya tiga atau empat langkah.

Sekarang giliranku yang melamun. Tidak sepenuhnya melamun. Hanya sedikit menatap kosong jalan yang tergenang air sambil mengingat aktivitas seharian ini. Jadwal kumpul organisasi yang sering tabrakan. Tumpukan deadline tulisan yang menunggu. Dan seabrek kesibukan lainnya. Ketika lelah seperti ini rasa menyesal selalu muncul. Kenapa mengambil semua kesibukan ini. Toh semua kesibukan yang kadang menjengkelkan ini ya ulahmu sendiri. Pilihanmu sendiri yang sebetulnya bisa kau tolak.

Pikiran kembali ke alam nyata. Sepertinya ada orang yang sedang memperhatikan aku. Dari arah samping kiri. Wanita itu? Ah sepertinya iya. Aku pelan menengok ke arah kiri. Benar. Dia sedang melihatku. Apakah memperhatikan? Belum tentu. Melihat tidak selalu memperhatikan. Mungkin dia hanya melihat dan heran mengapa aku melamun seserius itu. Urusan melamun aku memang jago. Paling jago di kota ini. Tak ada yang bisa mengalahkan.

Aku tatap balik dia. Sekali lagi dia tersenyum. Aku tidak tahu kali ini senyumnya berbeda. Lebih manis? Ah, tidak tahu. Mungkin saja. Aku juga tidak tahu macam-macam senyuman. Berapa jumlah keseluruhannya, dan mengapa dibedakan.

Aku coba membuka obrolan.“Hai. Pulang kuliah? Atau pulang kerja?”. Atau dari mana?” aku segera memperbaiki pertanyaan. Takut salah prediksi, karena tidak semua orang seusia ini kuliah atau bekerja.

“Iya. Pulang kuliah”. Jawabnya singkat. Dan agak gugup. Mungkin tidak begitu siap dilempar pertanyaan seperti itu. Apalagi orang yang baru kenal. Bukan. Bukan baru kenal. Bahkan aku belum berkenalan.

“Kuliah di mana?. Dia bersiap menjawab tapi aku timpali lagi salam kenal.

“Oh iya. Perkenalkan aku Salman Suryo Payoga. Panggil saja Salman. Aku juga masih kuliah. Siapa punya nama?”

“Aku Salma Faizah.”

“Panggilannya? Salma? Atau Faizah?”. Segera aku susuli pertanyaan.

“Terserah. Tapi teman-temanku panggil Salma”.

“Okey. Biar beda sama teman-temanmu boleh aku panggil Izah?”

“Boleh. Terserah saja”.

“Kuliah di mana?

“Kuliah di kampus Abu-abu” Jawabnya sambil mengisyaratkan dagu ke arah barat.

Kampus abu-abu itu adalah sebutan kampus negeri di kota ini. Disebut abu-abu karena jaz almamaternya berwarna abu-abu. Tidak tahu kapan dan siapa yang memakai istilah itu. Tak ada referensi kredibel yang mampu memberi penjelasan.

“Semester berapa sekarang?” tanyaku mulai menyelidik. Hal semester memang bikin penasaran. Karena saat kita tahu di semester berapa ia duduk maka kita bisa paham apa kesibukannya. Bagi yang pernah kuliah pasti mengalami banyak fase di dalamnya. Semester satu adalah fase cupu. Di mana mahasiswa baru mengenal dunia kampus. Bahkan jadi bahan olokan ketika seseorang menyebut “mata pelajaran” yang harusnya dinamai “mata kuliah”. Masih terbawa dengan kebiasaan anak SMA.

“Semester 8. Sebentar lagi selesai.”

“4 tahun ternyata waktu yang singkat. Serasa baru kemarin masuk kuliah sekarang udah hampir selesai” imbuhnya. Seperti ada hal yang belum rela dilepaskannya.

Memang. Waktu adalah satu dimensi yang unik. Kadang begitu lama bergulir. Tapi terkadang berjalan sangat cepat. Dan tak bisa diulang walau kita menginginkan dan berusaha.

“Rencana setelah lulus kuliah? Lanjut kuliah lagi? Atau langsung kerja?”

Sial. Sepertinya aku terlalu sok akrab. Baru sepuluh menit yang lalu kenalan sudah tanya rencana setelah lulus. Dasar manusia planingable. Tidak semua orang setelah kuliah langsung lanjut kuliah lagi, atau langsung kerja. Bisa saja ia pingin bersantai-santai dulu setelah bertarung dengan tugas akhirnya. Toh tak ada yang salah dengan hal itu.

Wanita itu mengernyitkan dahi. Tak menduga akan ada pertanyaan seperti itu. Seperti pertanyaan orang tua kepada anaknya yang habis sidang skripsi.

“Entahlah”. Jawabnya singkat. Sambil sedikit ragu untuk menggelengkan kepala.

“Kenapa?”.

“Hidup itu tak ada yang tahu. Dan di dalamnya banyak terdapat ketidakpastian”. Dia menjawab seperti itu. Seperti mau mengajak lawan diskusinya berpikir ke area problematik.

“Oh, begitu. Memang rumit ya”.

“Maaf kawan. Sepertinya aku terlalu serius. Padahal Anda tidak mau terlalu serius kan?. Wanita itu langsung menimpali.

Kadang obrolan orang yang baru kenal itu membingungkan. Ingin basa basi tapi takutnya terlalu basi. Ingin serius dikira filsuf yang baru puber. Ah, perjumpaan pertama emang aneh. Mau lebih kenal tapi terkesan sok akrab dan sok asyik. Tapi ingin irit bicara jadinya malah kaku.

Aku simpulkan dia saat ini mungkin belum terpikir untuk pasca kuliah. Karena mungkin sedang fokus mempersiapkan tugas akhir. Atau mungkin bimbang antara lanjut kuliah atau bekerja. Atau… Ah. Pasca kuliah kan tidak cuma lanjut kuliah lagi atau kerja. Ada pilihan ketiga selain itu.

Menikah. Ya. Menikah adalah pilihan ke tiga setelah lulus kuliah. Tapi apa ini yang dipikirkan wanita itu? Tidak tahu. Bisa iya bisa tidak.

“Anda sendiri apa kesibukannya?”. Ia mulai balik bertanya. Giliran aku yang agak gugup menjawabnya.

“Aku? Ya seperti ini. Sok sibuk ke sana ke mari.”

“oh iya Anda asal dari mana? Asli orang sini?

“Tidak. Aku dari kampung nun jauh di sana. Daerah pelosok di ujung barat. Kenapa? Ada yang aneh?”.

“Tidak ada yang aneh. Cuma dari logat Anda sepertinya bukan orang sini. Sudah berapa tahun di kota ini?

“Empat tahun. Baru sebentar bila dibandingkan dengan Anda yang mungkin sejak lahir udah di kota ini. Kota ini indah. Dengan segala lika-liku pastinya.” Imbuhnya dengan sedikit mengubah warna wajahnya.

“Apa yang Anda rasakan di kota ini? Boleh cerita?” Tanyaku sedikit menawarkan jadi pendengar. Barangkali dia punya cerita yang tak banyak orang mengalami. Kadang orang pendatang punya sudut pandang yang lebih luas daripada orang sepertiku yang sejak lahir ada di kota ini.

“Kota ini biasa saja”. Diam. Hening. Aku coba bersabar untuk tidak menyusuli pertanyaan lanjutan. Biarkan dia menyusun kerangka cerita tentang kota ini. Mungkin dia butuh rumusan agar ceritanya utuh. Atau malah dia enggan bercerita pengalamannya.

“Kota ini biasa saja. Ketika kita menganggapnya biasa. Tapi kota ini seperti sekumpulan cerpen. Banyak cerita di dalamnya. Banyak tema banyak pula judulnya. Yang kadang berkesinambungan tapi kadang tak pernah terhubung. Tapi ia tetap sebuah kumpulan cerpen yang dijilid rapi dan bersampul indah”.

“Ceritakan saja judul cerita yang ingin Anda ceritakan! Aku siap menjadi pendengar yang baik.” Aku membenahi posisi duduk tanda siap mendengarkan.

“Empat tahun lalu aku tiba di kota ini. Kota di mana tak sekalipun terlintas di pikiranku untuk singgah. Kesan pertamaku dengan kota ini biasa saja. Tak ada yang spesial. Seperti kota-kota lainnya. Sebenarnya aku pesimis bisa menetap di sini, walau sebenarnya hanya singgah sementara. Aku mencoba menghibur diri bahwa di manapun kau singgah, termasuk di tempat ini kau akan mendapat pelajaran yang tidak orang lain dapatkan.

Awalnya aku risih dengan orang-orang sekitarku. Orang yang sering mencampuri urusan orang lain. Aku yang konon lahir dan hidup di lingkungan yang notabenenya cuek dan lugas harus hidup di lingkungan yang katanya ramah dan kebersamaan. Aku bingung mengkategorikan kebiasaan ini. Ramah dan kebersamaan? Ah, menurutku ini bukan ramah tapi lebih ke ingin mencampuri urusan orang dan suka basa-basi.

Budaya “Nggak enakan” mungkin yang tidak cocok denganku. Karena lingkunganku sebelumnya tak seperti ini. Billa suka yang bilang suka. Bila tak suka ya bilang tak suka. Tidak pernah yang namanya “nggak enak sama teman”.

Tapi akhirnya aku berkompromi dengan hal itu. Perlahan mampu menerima. Bahkan sekarang aku sepertinya juga menjadi manusia yang “nggak enakan”. Sama seperti mereka orang-orang di sekitarku.

Dua tahun hidup di kota ini ternyata aku belum menikmati sepenuhnya. Bahkan pada satu titik aku sangat jenuh. Aktivitas harian yang repetitif menjadikan kita mudah jenuh. Kuliah pagi hingga siang. Kemudian dilanjut organisasi hingga sore, bahkan sering pula sampai malam bila ada proker besar. Tapi ya itu, rutinitas tetap hanya menjadi rutinitas yang berulang tanpa kesan.

Waktu menginjak semester enam. Sekitar tiga tahun aku hidup di kota ini. Sekali lagi aku kabarkan aku tak pernah terlintas di cita-citaku akan singgah di kota ini. Tahun ketiga yang menjadi titik balik hidupku, bahkan kenanganku.

Aku kenal dengan seorang cowok. Beda fakultas beda angkatan. Dia satu tahun di atasku. Berarti dia duduk di semester delapan. Kami bertemu di sebuah organisasi, kebetulan dalam satu bidang. Orangnya baik, cukup perhatian. Setidaknya menurutku. Komitmen dalam berorganisasi.

Awalnya biasa saja, seperti layaknya anggota organisasi yang lain. Berinteraksi Cuma saat urusan organisasi. Di luar itu jarang ada kontak komunikasi. Tapi seiring berjalannya waktu entah kenapa dia memberi perhatian. Sebenarnya aku juga tidak tahu apakah itu namanya perhatian atau apa. Aku terlalu amatir untuk hal ini. Begitu bodoh untuk soal interaksi semacam ini.

Waktu terus berjalan. Intensitas bertemu dan komunikasi semakin sering. Aku merasa ada yang aneh ketika harus berkomunikasi dengannya. Seringkali aku gugup, bahkan sering pula belepotan sendiri ketika bicara. Aku tak tahu kenapa harus seperti itu.

Laki-laki ini secara penampilan sebenarnya biasa saja. Tak ada yang spesial. Tapi ketika dia berbicara, apalagi mengutarakan argumen entah kenapa selalu menarik. Tutur katanya runtut, bahasanya argumentatif. Ketika berbicara seperti menjadi orang lain, bukan menjadi dia yang biasanya.

Aku selalu gugup ketika bertemu dan komunikasi langsung. Aku heran mengapa selalu seperti ini. Aku mencoba jujur terhadap diri sendiri, apakah aku jatuh cinta kepadanya? Sepertinya tidak. Aku tidak pernah jatuh cinta kepadanya. Aku hanya kagum kepadannya, lelaki yang selalu tenang pembawaannya, lelaki yang selalu menarik ketika berbicara dengan kecerdasannya.

Waktu terus belalu dan kesanku terhadapnya tetap sama. Dia tetap menarik. sampai tiba suatu waktu dikabarkan bahwa dia sebentar lagi wisuda. Antara senang dan sedih. Senang karena wisuda adalah subuah babak akhir dari perjalanan belajar. Sedih karena berarti sebentar lagi semua akan berakhir.

“Jadi apa kesan Anda dengan kota ini? Aku bertanya singkat.

“Seperti yang kukatakan, Aku tak pernah berencana singgah di kota ini. Tapi takdir membawaku ke sini. Aku tak pernah ingin membuat dan mengingat kenangan di sini. Namun juga tak akan ingin melupakannya”. Dia menjawab penuh penekanan.

“Bila ingin kau katakan, apa yang ingin kau katakan ketika kau hendak pulang?” Tanyaku lagi.

“Aku jatuh cinta dengan kota ini. Pun juga jatuh cinta dengan salah satu orang yang di dalamnya.”

Azan Magrib berkumandang. Ternyata sejak tadi hujan sudah reda. Kami bergegas pulang.

*Baca juga esai-esai menarik di Platform Media Opini & Esai kotomono